ETIK NEWS– Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Thomas Americo, merespons pandangan Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat terkait pentingnya penguatan sistem pendidikan adaptif guna meningkatkan kapasitas sains, bahasa, dan teknologi peserta didik. Respons ini disampaikan sebagai tindak lanjut atas sorotan nasional terhadap capaian pendidikan Indonesia yang dinilai masih tertinggal dalam berbagai aspek kompetensi dasar.
Isu pendidikan adaptif mencuat setelah Lestari Moerdijat mengungkapkan perlunya kesiapan sistem pendidikan nasional menghadapi tantangan global, menyusul laporan National Center for Education Statistics (NCES) dalam hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022. Dalam laporan tersebut, Indonesia menempati peringkat 69 dari 80 negara pada aspek matematika, sains, serta kemampuan mengelola teknologi digital secara mandiri. NCES juga mencatat bahwa pada siklus PISA ke-9 tahun 2025, fokus penilaian akan diarahkan pada sains, kemampuan bahasa asing, dan pembelajaran mandiri berbasis digital.
Menanggapi hal tersebut, Thomas Americo menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Lampung telah lebih dahulu menyiapkan sejumlah langkah konkret untuk menjawab tantangan tersebut. Salah satunya melalui kebijakan peningkatan kemampuan bahasa asing di lingkungan sekolah menengah. Pada 16 September 2025, Disdikbud Lampung telah menerbitkan surat edaran yang mewajibkan penggunaan bahasa Inggris setiap hari Jumat di SMA dan SMK negeri maupun swasta, khususnya pada kelas prioritas dan kelas unggulan.
“Kita sudah buat edaran untuk berbahasa Inggris di SMK dan SMA. Ini bagian dari upaya membiasakan peserta didik berinteraksi dengan bahasa internasional sejak dini,” kata Thomas Americo saat ditemui pada Kamis (18/12/2025).
Selain penguatan bahasa, Disdikbud Lampung juga mulai mengintegrasikan teknologi informasi yang lebih maju ke dalam kurikulum. Thomas menjelaskan bahwa mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) kini telah diperkaya dengan materi kecerdasan buatan dan bahasa pemrograman. Langkah ini diambil untuk mempersiapkan generasi muda Lampung agar mampu beradaptasi dengan perkembangan artificial intelligence (AI) dan kebutuhan dunia kerja masa depan.
“Kurikulum TIK dan bahasa pemrograman sudah berjalan tahun ini karena dekat dengan keseharian peserta didik. Output-nya kita harapkan mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia Lampung,” ujarnya.
Untuk mendukung implementasi tersebut, Disdikbud Lampung juga menggelar pelatihan khusus bagi guru SMA dan SMK. Hingga saat ini, tercatat 72 guru telah mengikuti pelatihan pembelajaran AI dan akan terus bertambah seiring penerapan kurikulum baru. Ke depan, Disdikbud juga berencana mengoptimalkan pendekatan Sains, Teknologi, Engineering, dan Matematika (STEM) guna memperkuat literasi numerasi siswa melalui sistem asesmen yang terukur.
“Kita akan dorong STEM agar peserta didik semakin mahir dalam literasi numerasi dan sains,” pungkas Thomas Americo.***
