Panji Sewu Gelar Suran dan Jamasan Pusaka Nusantara, Gubernur Lampung Ajak Generasi Muda Jaga Warisan Budaya

Etik News | Pringsewu – Perkumpulan Paguyuban Pelestari Tosan Aji Panji Sewu Provinsi Lampung menggelar Suran Panji Sewu dan Jamasan Pusaka Nusantara di Sekretariat Panji Sewu, Pekon Sukoharjo III, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu.

Kegiatan tahunan tersebut dihadiri para sesepuh, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta unsur pemerintah daerah. Hadir mewakili Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Lampung Ahmad Saipul, Ketua DPRD Kabupaten Pringsewu Suherman, Bupati Pringsewu Riyanto Pamungkas yang diwakili Kepala Kesbangpol Pringsewu Catur Agus Dewanto, Pabung Kodim 0424/TGM Mayor Agus S, serta perwakilan Polsek Sukoharjo.

Membacakan sambutan Gubernur Lampung, Ahmad Saipul menyampaikan apresiasi kepada keluarga besar Panji Sewu dan seluruh pihak yang terus menjaga kelestarian tradisi di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.

Menurut Gubernur, sebuah tradisi akan tetap hidup bukan karena sering dipentaskan, melainkan karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya terus dipahami dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Ketika maknanya hilang, yang tersisa hanyalah sebuah seremoni. Tetapi ketika maknanya terus dijaga, maka tradisi akan selalu menemukan tempat di setiap generasi,” demikian pesan Gubernur.

Ia menilai tradisi Suran memiliki makna yang sangat relevan sebagai momentum untuk melakukan introspeksi, memperbaiki niat, serta menyusun langkah menuju masa depan yang lebih baik.

Gubernur juga menegaskan bahwa pusaka yang dirawat bukan semata benda bersejarah, melainkan simbol penghormatan terhadap sejarah, perjuangan, kebijaksanaan, serta semangat gotong royong para pendahulu bangsa.

Selain itu, ia mengingatkan bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui penyelenggaraan acara setiap tahun, tetapi juga harus diiringi dengan upaya menanamkan pemahaman kepada generasi muda mengenai nilai-nilai yang terkandung di balik setiap tradisi.

“Semoga Suran dan Jamasan Pusaka Nusantara menjadi ruang mempererat persaudaraan, memperkuat kebersamaan, serta mengingatkan kita bahwa kemajuan akan semakin kokoh apabila dibangun di atas akar budaya yang kuat,” ujarnya.

Sementara itu, tokoh adat sekaligus Ketua Jaringan Media Siber Indonesia Lampung, Ahmad Novriwan, mengatakan budaya adiluhung seperti jamasan perlu terus dilestarikan karena merupakan kekayaan bangsa yang tidak ternilai.

Menurutnya, melalui prosesi penghormatan terhadap pusaka dan warisan leluhur, kecintaan terhadap budaya Nusantara dapat terus tumbuh sehingga mampu mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.

Di kesempatan yang sama, Ketua Perkumpulan Paguyuban Pelestari Tosan Aji Panji Sewu Provinsi Lampung, Dony Estavian, menegaskan bahwa Suran dan Jamasan Pusaka Nusantara bukan sekadar ritual, melainkan sarana menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap warisan budaya bangsa.

Ia menjelaskan, jamasan merupakan bentuk perawatan sekaligus penghormatan kepada pusaka dan para leluhur. Selain itu, keris juga telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia.

Dony berharap agenda tahunan tersebut terus menjadi ruang perekat persaudaraan dan silaturahmi tanpa memandang perbedaan suku, agama, maupun latar belakang sosial.

“Di sinilah rasa persatuan mengalir dan melekat. Keluarga besar Panji Sewu berasal dari berbagai latar belakang suku dan budaya, namun dipersatukan oleh kecintaan terhadap warisan budaya Nusantara,” pungkasnya.